Selasa, 26 Desember 2017
Puisinya Puisiki
Beranjak dari sebuah pojok kesepian.
Menelusuri jejak hujan gerimis.
Menyisahkan hujan dan aku sendiri.
Merindukan biru muda pelangi.
Rindu dalam jarak melelahkan.
Seperti meyakini dalamnya lautan samudera.
Bagaimana jika kamu menjadi aku ?.
Apakah kamu terbelenggu pilu ?.
Aku harus memilih, halalkan atau tinggalkan.
Atau kita menjadi sepasang juara kedua.
Minggu, 17 Desember 2017
Wanita dan Aku
Wanitaku.
Kau mengajarkanku kesetiaan dan cinta yang tulus, kau tanpa pamrih mengasihi dan memberi jiwa ragamu untukku. Ketabahanmu dalam hidup mengajarkanku untuk selalu bersyukur.
Tapi aku meninggalkanmu.
Wanitaku.
Kamu mengajarkanku pengorbanan, kau memberikan semua yang ku minta. Tapi kau mirip ibuku, aku tak butuh ibu selain ibuku. Caramu mengajarkanku menyayangi ibuku.
Maaf ku meninggalkanmu.
Wanitaku.
Kau tak mengajarkanku kesetiaan, kau tak memberikanku kasih dan sayangmu. Kau hanya memberi ragamu tapi tidak jiwamu. Caramu mengajarkanku arti keikhlasan dan harapan.
Tapi kau entah dimana.
Wanitaku...
Kau mengajarkanku kesetiaan dan cinta yang tulus, kau tanpa pamrih mengasihi dan memberi jiwa ragamu untukku. Ketabahanmu dalam hidup mengajarkanku untuk selalu bersyukur.
Tapi aku meninggalkanmu.
Wanitaku.
Kamu mengajarkanku pengorbanan, kau memberikan semua yang ku minta. Tapi kau mirip ibuku, aku tak butuh ibu selain ibuku. Caramu mengajarkanku menyayangi ibuku.
Maaf ku meninggalkanmu.
Wanitaku.
Kau tak mengajarkanku kesetiaan, kau tak memberikanku kasih dan sayangmu. Kau hanya memberi ragamu tapi tidak jiwamu. Caramu mengajarkanku arti keikhlasan dan harapan.
Tapi kau entah dimana.
Wanitaku...
Langganan:
Komentar (Atom)
